Oleh: indfis | 10 Agustus 2009

Dilematik fisoterapi indonesia

kadang kita tidak menyadari apa yang kita usahakan, malah menjadi bumerang pada diri kita sendiri, ketika kita mau mencari jati diri agar eksistensi dalam memperjuangkan profesi sangat berat , musuh yang terberat adalah adanya kapitalisme atau perang tanding yang tidk sehat dalam lingkungan profesi kehidupan iini tidak terlepas bagaimana takutnya para pemain bisnis kesehatan dalam merebut pasar, juga tidak lepas dari kepentingan yang dinamakan money, inilah kadang kadang yang dapat menghancurkan kredibilitas dan harga diri sekalipun tanpa mengindahkan”” kepenttingan orang banyak””inilah apa yang dikatakan memaksakan diri untuk kepentingan pribadi, inilah yang terjadi didunia profesi, fisioterapi sudah sejak jaman hypokratespun sudah lahir lebih dahulu, akan tetapi karena disisipi oleh intrik-intrik permainan jabatan semua tidak profesional lagi, yang tadinya dengan tujuan kepentingan masyarakan akan tetapi mengabaikan kepentingan itu sendiri, contoh nya Saya kedatangan pasien yang berkata: saya sudah 2 tahun berobat baru mengenal yang namanya fisioterapi baru ini, sementara saya selalu dikonsulkan kediokter rehab medis, dari sini kita bisa menilai permintaan masyarakat selalu diabaikan, begitu juga mereka yang sudah pernah fisioterapi bahkan diluar negri, ada yang merasa belum ditangani fisioterapi karena mereka selalu dikonsul ke dr. rehab. kita semua harus ingat bahwa yang namanya pelayananan itu adalah keinginan masyarakat bukan memaksakan keinginan yang mau memasarkan profesinya, sekarang ini masyarakat dipaksakan untuk memilih, bahkan dengan melanggar aturan internasional sekalipun, secara akuntable , yang namanya dr rehab hanya menangani sistem rehabilitasi bukan menjalankan profesi fisioterapi, akan tetapi di indonesia mereka merasakan bahwa merekalah yg berhak untuk melakukan fisioterapi tersebut bahkan mendapatkan tukang sopirpun untuk menjlalankan alat-alat fisiooterapi legal saja , asal nama fisioterapi hilang dari pasaran , inilah problenmatik kita, sekarang bagaimana kita berbuat?….. maukah kita diperlakukan seprti ini tanyakan pda diri kita sendirio,
sekarang draf fiisioterapi mandiri sedang kita perjuangkan dengan mengatakan fisioterapi dibawah direktorat penunjang medis , dalam satu sisi, dokter rehab mebuat draf juga centra rehab dengan bawahannya fisioterapi, apakah tidak ngawur , mayarakat akan bingung dan pelayanan indonesuia sehat yang kita dambakan pasri terganggu karena ulah kepentingan status Quo , dan pribadi, coba kita lihat akupuntur saja yg baru dikenal masyarakat sudah bisa akses sendiri, tanpa ada yang menghalanigi tapi kita fisiotersapi organisasi sudah lumutan selalu di halang halangi untuk berkembang .. apa respon kita….?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: